WISATA EDUKASI DI MUARAGEMBONG

Pantai Bahagia, 19 Mei 2013

Masih di hari yang sama dengan kegiatan penanaman mangrove dari Forum Tujuh Tiga (Fortuga) ITB. Di lokasi yang sama beberapa komunitas dari kota Bekasi ikut meramaikan kegiatan tersebut. Kegiatan yang awal di rencanakan menjadi satu rangkaian karena masalah waktu terpaksa di buat menjadi dua bagian. Bagian pertama penanaman mangrove bersama dan bagian kedua edukasi wisata mangrove bertajuk “Pride Of Muaragembong”.  

GambarKegiatan yang lebih di orientasikan pada segmentasi anak muda ternyata mendapat respon yang luar biasa dari teman-teman komunitas dari kota dan kabupaten Bekasi. Peserta yang awalnya di targetkan hanya 20 orang, membludak sampai 80 orang. Sampai-sampai adik-adik dari (Persatuan Osis Kabupaten Kota) POSKAB Bekasi, tidak sampai kelokasi. Karena tertinggal jauh dengan dua rombongan sebelumnya.

Dalam kegiatan ini salah satu target yang ingin dicapai adalah berusaha memperkenalkan potensi alam pesisir serta memberi informasi pada banyak pihak tentang kerusakan hutan mangrove di pesisir Muaragembong. Informasi yang didapat akan dikemas dalam berbagai media, salah satunya yang dilakukan Komunitas Fhotografi Bekasi (KFB), mereka berusaha menceritakan apa yang terjadi di pesisir Bekasi melaui kepiawaian mereka dalam mengambil gambar. Selain itu juga komunitas D’Visual (Komunitas Film Dokumenter) berusaha membantu memvisualisasikannya, agar masyarakat umum dan khususnya masyarakat Kabupaten / Kota Bekasi memperoleh banyak informasi tentang daerah paling ujung di utara Bekasi.

Gambar

Kegiatan yang di awali dengan penjelasan singkat tentang fungsi mangrove oleh Salah satu Aktivis  Lingkungan Muaragembong, mengundang antusias yang luar biasa dari peserta yang hadir. Mereka bertanya banyak hal tentang ekosistem mangrove. Kegiatan berikutnya adalah para peserta kegiatan Edukasi Wisata mangrove bertajuk “Pride Of Muaragembong” diajak mencoba menanam mangrove dilokasi yang terkena dampak abrasi.  Setelah itu kegiatan di tutup dengan pengambilan gambar di beberapa lokasi.

Dan yang paling istimewa adalah ketika sesi pengambilan gambar dimulai beberapa ekor lutung jawa ekor panjang tampak bergerombol terlihat dari kejauhan. Tak ayal kondisi ini menjadi pemicu semangat teman-teman komunitas mempraktekan keahliannya mengambil gambar. Dalam kegiatan ini juga turut hadir beberapa komunitas lain seperti : Bekasi Urban City (BUC), Putera- Puteri Kartini, Komunitas Onthel Sepeda Tua Indonesia (Kosti) korwil Bekasi, Earth Hour (EH Bekasi), Akademi Berbagi (AkberBKS), serta Dinas kebersihan dan pertaman Kota Bekasi yang di wakili oleh Ibu Kiswati Ningsih.

Di akhir   ketika di temui seusai kegiatan, ketua rombongan sekaligus  penggagas kegiatan “Pride Of Muaragembong ” Ferlansyah,  menyatakan bahwa pihaknya beserta teman-teman komunitas di Kota dan Kabupaten Bekasi akan memberi support untuk kegiatan yang berorientasi pada rehabilitasi ekosistem mangrove di pesisir Bekasi. “Semoga kedepan lebih banyak pihak yang mau mendukung program positif seperti ini “ . Tambahnya.

Iklan

Muaragembong Kedepannya sebagai Ekowisata hutan bakau/vegetasi bakau (Mangrove)

Gambar

Pantai Muara Gembong mempunyai keindahan pesona pantai yang menjanjikan untuk dijadikan objek wisata di Kabupaten Bekasi.
Terdapat wisata hutan bakau yaitu merupakan hutan bakau/vegetasi bakau (Mangrove) banyak terdapat di pesisir pantai utara Muara Gembong.

Gambar

Kawasan ini terletak di masing-masing Desa di Pantai Bahagia,  Pantai Mekar dan Pantai Sederhana  Kecamatan Muara Gembong , Bekasi. adapun daerah Pantainya di antaranya : muara Blacan, Muara kuntul, Muara Bendera dan Muara Beting sedang dalam proses pengembangan sebagai potensi objek Ekowisata di Kabupaten Bekasi. juga sebagai tempat Swaka Satwa dan cagar alam karena terdapat hewan yang perlu dilestarikan seperti burung-burung unik dan juga jenis satwa monyet serta lutung hitam yang sudah langka dan Buaya jenis rawa.

Gambar

 

Ulasan Buku “TEROR ORDE BARU”

Dalah sebuah peristiwa sejarah, so pasti ada pro dan ada kontra, termasuk di masa kepemimpinan Rezim orde baru, menyimpan banyak kenangan manis maupun pahit. Kenangan manis maupun pahit Masa pemerintahan Soeharto ini, sudah banyak diabadikan dalam lembaran-lembaran kertas yang disatukan, yang biasa disebut Buku.

Kenangan manis Masa Orde Baru ini misalnya tetulis dalam Buku Pak Harto: The Untold Stories, dan kini pada tahun 2013 inni, kembali diterbitkan buku terjemahan oleh Komunitas bambu, judul buku terjemahan ini adalah Teror Orde baru, jika melihat judulnya, maka so pasti kita sudah dapat menebak isi buku ini, yang intinya akan bercerita tentang kisah atau kenangan pahit pada masa Orde Baru.

Buku ini berkisah Dimulai dengan menempatkan gerakan 1965 sebagai kudeta Soeharto dan perkaitannya dengan kepentingan ekonomi dan militer Amerika Serikat. Dari sini Julie Southwood dan Patrck Flanagan menganalisis peran kepemimpinan militer dan Kopkamtib dalam pembunuhan besar-besaran yang terjadi setelah 1965, serta penggunaan secara sistematis sistem hukum juga propaganda untuk bukan saja mengorbankan ribuan orang tahanan politik, lebih jauh menjalankan suatu teror terhadap rakyat Indonesia.

Semua itu diungkapkan dengan memaparkan sejumlah bukti-bukti dan catatan detail yang ditinggalkan rezim militer Indonesia yang sohor paling represif di Asia modern dan paling mengerikan dalm tindakan pelanggaran hak asasi manusia. Buku ini dihiasi dengan cara-cara rumit dimana rezim yang represif semacam itu dapat menggabungkan teror, sistem hukum yang diselewengkan dan propaganda guna memaksa seluruh masyarakat untuk patuh.

Mengenai Buku Teror orde Baru

Buku Teror Soeharto yang kemudian diubah judulnya menjadi Teror Orde Baru adalah terjemahan dari buku Indonesia Law, Propaganda and Terror karya Julie Southwood dan Patrick Flanagan yang terbit pada 1983 dan dilarang oleh Orde Baru. Komunitas Bambu mulai menggarap terjemahan buku tersebut pada Februari 2012, setelah mendapatkan izin dari penulisnya yang tinggal di Spanyol. Buku tersebut direncanakan sebagai buku pembuka tahun penerbitan 2013 Komunitas Bambu. Pada 9 Januari 2012, buku tersebut naik cetak dengan judul TEROR SOEHARTO dan dengan pengantar aktivis HAM, Usman Hamid, dan sejarawan sosiolog terkemuka WF Wertheim.

Gambar

Hutan Mangrove Muara Gembong terletak di wilayah Pantai Utara yang berdekatan dengan pusat-pusat kegiatan ekonomi

Hutan mangrove di seluruh dunia terus mengalami tekanan akibat kebutuhan akan ruang untuk pembangunan sarana dan prasarana ekonomi. Hutan Mangrove Muara Gembong terletak di wilayah Pantai Utara yang berdekatan dengan pusat-pusat kegiatan ekonomi. Tekanan yang dialami Hutan Mangrove Muara Gembong berupa okupasi lahan dan konversi menjadi tambak ikan/udang. Kondisi ini sudah berlangsung lama dan terjadi hampir di seluruh kawasan. Pemerintah Kab. Bekasi mengajukan agar kawasan tersebut dilepas dari statusnya sebagai kawasan hutan. Diperlukan data mengenai sebaran, luas, dan potensi biomassa mangrove kawasan tersebut sebagai data penimbang bagi Kemenhut RI untuk memutuskan hasil studi dalam rangka alih status kawasan hutan tersebut.
Penelitian difokuskan pada kawasan hutan mangrove Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Propinsi Jawa Barat. Kegiatan peninjauan lapang dilaksanakan pada Bulan Desember 2009. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan luas, potensi biomassa, dan kerapatan vegetasi mangrove menggunakan data Landsat-7 ETM+ pada tahun 2001 dan 2010. Data Landsat diolah dengan beberapa tahap meliputi: strip-filling, importing, layer stacking, subsetting, koreksi geografik, koreksi radiometrik, klasifikasi citra, pendugaan karakter biosistem mangrove, dan accuracy assessement.
Jenis tutupan lahan (landcover) yang ditemukan pada citra Landsat kawasan tersebut terdiri dari sembilan kelas kategori klasifikasi citra, yaitu: laut 1, laut 2, mangrove, area terbuka/terbangun, padi 1, kebun campuran, padi 2, tambak, dan sungai. Citra Landsat diklasifikasikan dengan teknik klasifikasi terbimbing (supervised classification) metode kemiripan maksimum (maximum likelihood). Setiap setiap kelas jenis tutupan lahan dibuatkan 10 area contoh (training area). Nilai tingkat keterpisahan antar kelas (transformed divergence separability) citra tahun 2001dan tahun 2010 lebih dari 1.900 sedangkan akurasi keseluruhan (overall accuracy) dan akurasi Kappa masing-masing sebesar 99,8% dan 99,63% untuk citra tahun 2001 dan; 99,61% dan 99,39% untuk citra tahun 2010. Berdasarkan uji akurasi klasifikasi, citra tahun 2010 yang diklasifikasikan memiliki tingkat akurasi klasifikasi overall sebesar 83,33%, sedangkan statistik kappa overal bernilai 77,29%.
Luas mangrove pada tahun 2001 sebesar 540,72 ha kemudian menjadi 822,24 ha pada tahun 2010. Potensi biomassa mangrove pada tahun 2001 sebesar 46,7 ton/ha kemudian menjadi 53,49 ton/ha. Sedangkan untuk kerapatan mangrove pada tahun 2001 sebesar 55,78% dan menjadi 8,43% pada tahun 2010.

Gambar